Pembelajar Masyarakat Global dari Kampung Kecil

Dulu di era 1990-an, julukan “Tin Island” sudah biasa bagi Konsulat Bangka-Belitung yang menempuh studi di Pondok Modern (PM) Gontor di Ponorogo. Justru Konsulat Bangka Belitung PM Gontor mempopulerkan julukan itu. Bukan saja mengisi ruang kosong Majalah STANIA, satu-satunya media cetak di Bangka Belitung sebelum Reformasi 1998—dan itu terbitan BUMN satu ini: PT. Timah Tbk.

Julukan “Tin Island” digunakan para santri dan guru Gontor asal Bangka Belitung era 1990-an sebagai negasi keunggulan komparatif yang menjadi kekhasan (distingsi) daerah asal. Sudah tertanam kesadaran kuat akan daya saing tanah kelahiran sekelas remaja SMP dan SMA sebagai santri dan pemuda sekelas mahasiswa S1 sebagai guru junior.

Putra Bangka Belitung tidak menggunakan istilah Pulau Timah era 1990-an, melainkan Tin Island. Maklum saja: santri dan guru asal Bangka Belitung hanya satu di antara entitas keberagaman masyarakat nasional dan internasional di kampung damai tersebut.

Para Kyai Gontor mendidik para santrinya melebur dalam kesatuan masyarakat pembelajar. Multi suku, bahasa dan adat daerah asal santrinya, dari Sabang sampai Marauke dan dari luar negeri, ditiup dengan roh totalitas pendidikan dan pendidikan total.

Suatu hari, di sela saya mengedit buku KH. Syukri Zarkasyi dalam rangka penganugerahan beliau sebagai doktor honoris causa (HC) UIN Syarf Hidayatullah Jakarta 2005, Pak Syukri menyatakan demikian itu politik tertinggi Gontor. Beliau istilahkan sebagai politik subtansif, politik tertingginya Gontor.

Di PM Gontor era 1990-an, setidaknya periode 1994-1999 di masa saya nyantri, ada belasan santri dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Australia. Memenuhi misi politik subtansif itu, penyebutan istilah komunitas daerah asal telah ditanam sejak awal menggunakan nomenklatur politik luar negeri RI.

Penamannya berupa Konsulat, adaptasi istilah Konsulat Jenderal (Konjen) RI di luar negeri. Para santri dari luar negeri dikluster dalam satu Konsulat Luar Negeri. Ini merupakan pengulangan ijtihad Gontor pada dekade ketiga abad 20 di zaman pergerakan Indonesia modern.

Ketika sistem pendidikan di zaman itu berdialektika sengit ikhwal sistem modern bercorak madrasah menggunakan kursi dan meja pada Muhammadiyah laiknya MULO dan sistem klasikal pesantren salaf ala NU yang mempertahankan tradisi sarung dan hafalan, trimurti pertama Gontor mendesain mainstream yang tidak ditemukan di dunia.

Sistem pesantren secara umum di Indonesia saja tidak ditemukan di dunia. Terlebih sistem pesantren modern. Santri dan guru di Gontor memang bersarung. Tapi itu di luar kelas. Di kelas, Gontor menerapkan penggunaan jas dan dasi. Pakai kopiah lagi, mirip dua bung besar: Soekarno-Hatta. Tradisi hafalan kelak diseimbangkan dengan nalar, inspirasi dari Al-Azhar Kairo. Di antara eksperimen yang paling lagendaris: inspirasi dari Kongres Al-Islam Hindia Belanda.

Saat Raja Ibnu Sa’ud mengundang tokoh umat Islam Hindia Belanda untuk menghadiri Kongres Mekkah, golongan moderat dan tradisional berdebat sengit. Bukan saja ikhwal kegigihan golongan tradisionalis untuk memperjuangkan suara umat Islam agar Arab Saudi dapat mengendalikan doktrinasi Wahabi, dominasi otoritas ibadah haji serta penghormatan Arab Saudi terhadap umat Islam di dunia dalam menganut hukum empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

Perdebatannya juga berkisar siapa tokoh Islam yang akan diutus menjadi delegasi Kongres Mekkah. Persiapannya dibahas sengit dalam Kongres Al-Islam Hindia Belanda keempat dan kelima di Bandung dan Yogyakarta sepanjang Februari 1925. Hasilnya: mengutus KH. Mas Mansur dari Muhammadiyah dan HOS Tjokroaminoto dari Sarekat Islam. Pertimbangannya: KH. Mas Mansur menguasai bahasa Arab. HOS Tjokroaminoto menguasai bahasa Inggris.

Peristiwa itu sangat membekas dalam diri pemuda bernama Imam Zarkasyi (allahumma yarhamhu). Berbagai gagasan brilian dibahas secara seksama bersama dua orang kakak kandungnya: Ahmad Sahal dan Zainuddin Fanani (allahumma yarhamhuma).

Trimurti PM Gontor, para putra Kiyai Santoso Anom Besari itu mendesain penggunaan dua bahasa: Arab dan Inggris sekaligus. Kelak menjadi bahasa formal Gontor—embrio semua sistem pondok pesantren modern dan boarding school di tanah air.

Akumulasi berbagai eksperimen washtitiyah (moderat) itulah—dalam istilah alm Nurcholish Madjid—dimulainya secara formal sistem modern (al-thariqoh al-hadisah) Gontor. Sistem yang dibawa KH Imam Zarkasyi dari pengalamannya yang panjang menimba ilmu di Joresan, Tegalsari, Solo dan Padang Panjang itu ditandai dengan pembukaan program pendidikan baru 1936 yang paling modern di zamannya.

Program itu bernama Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dengan direktur pertamanya ditangani oleh KH. Imam Zarkasyi.Penggunaan istilah Konsulat adalah satu di antara kemodernan itu, menjadi media penanaman diri santri terhadap warna masyarakat global.

Para Kyai Gontor nampak hendak menegasikan: para santri adalah putra terbaik daerah asalnya. Mereka berkompetisi secara nasional dan internasional di taman keilmuan dan lumbung persemaian pemimpin bernama Pondok Modern Gontor itu. Meski berasal dari satu daerah, senasib di tanah rantau di Desa Gontor yang amat kecil di Kec. Mlarak, Kab. Ponorogo, hukum berkumpul lebih dari dua orang dari daerah asal menjadi “haram”.

Terlebih lagi bila menggunakan bahasa daerah. Dikatagorikan sebagai pelanggaran berat disiplin, yang sering sekali terapan disiplin itu disebut sebagai “sunnah” pondok. Kecuali pada waktu tertentu, rutin berkala bulanan, disediakan jadual untuk menggelar pertemuan masing-masing Konsulat.

Pertemuan itupun bukanlah kongkow suku. Melainkan laporan bulanan pengurus tiap Konsulat di hadapan para anggota dan guru pembimbing masing-masing daerah asal. Di dalamnya sarat dengan evaluasi plus motivasi proses belajar-mengajar.

Di setiap pertemuan berkala itulah Konsulat Bangka Belitung sering sekali menegasikan distingsinya sebagai “Tin Island”. Biasanya menjadi background pertemuan, digambarkan dengan balok timah dan pulau Bangka Belitung sebagai aksesori. Itupun digambarkan menggunakan kapur berwarna di papan tulis sebelum era banner digital.

Di luar pertemuan itu, jangan coba-coba berkumpul lebih dari dua orang sesama daerah asal. Taruhannya akan dibotak kepalanya sebagai sanksi disiplin pelanggar “sunnah” pondok. Dalam satu kamar di tiap asrama pun, proporsi kedaerahan disebar merata.

Konsulat DKI Jakarta dan Konsulat Kresidenan Bekasi—dua di antara populasi terbesar santri yang menimba ilmu di PM Gontor era 1990-an—seingat saya dikendalikan agar tidak melebihi tiga orang dalam satu kamar.

Sebuah proses pembelajaran yang unik di eranya. Di satu sisi, para santri digambarkan merupakan putra terbaik daerah, lantaran ketatnya seleksi menjadi santri Gontor. Setidaknya di era sebelum berdirinya PM Gontor cabang pada dekade akhir 1990-an. Sisi lain: fanatisme kesukuan daerah sangat dihindari. Bahkan cenderung “haram”.

Eksperimen Gontor saat memulai sistem modern, kesukuan yang terpupuk di tengah keberagaman, terlebih di taman pembelajaran pemimpin, hanya melahirkan kebebasan tak terkendali. Nabi Muhammad saw diutus ke dunia mengemban misi menertibkan tribalisme itu. Segala golongan diikat oleh traktat. Satu butir dilanggar, akan diperangi karena mengkhianati kesepakatan bersama.

Hal itu yang nampaknya menjadi alasan kenapa “diharamkan” berkumpul lebih dari dua orang sesama daerah asal di PM Gontor. Seingat saya, KH. Syukri Zarkasyi sering sekali mengingatkan, kalau sudah berkumpul lebih dari tiga orang, sangat menggoda untuk menggunakan bahasa daerah. Dan dari situ benih feodalisme tumbuh.

Di luar bahasa Arab dan Inggris, jangan coba-coba digunakan di depan umum. Pun di pojok tersembunyi, ada saja mata dan telinga yang distel para penegak disiplin (baca: sunnah pondok). Saya merasakan berkali-kali dirotani sebagai pelanggar disiplin bahasa.

Bagi pelanggar bahasa dan pelanggar disiplin lainnya seperti saya, dari Gontor pula saya belajar praktik intelijen sebagai terapan dasar. Pasalnya, para pelanggar disiplin akan dijadikan mata-mata untuk mencari para pelanggar lainnya. Dan hal itu wajib hukumnya dilaporkan secara tertulis sebagai bukti formil keesokan harinya.

Kalau tidak begitu bakal dianggap laporan palsu. Tune-nya tuduhan. Kalau tidak mampu menemukan pelanggar disiplin lain melalui laporan tertulis itu—lengkap dengan isian kolom jam berapa, di mana dan apa jenis persis pelanggarannya—pengurus asrama akan menghukum kembali si pelanggar. Kalau sudah begini: rotan bicara.

Tak ada satupun yang ditutupi oleh pimpinan Gontor dari sistem modern itu dari publik Indonesia dan dunia. Itupun lagi-lagi pengulangan ijtihad Gontor di masa lampaunya. Tentu Anda pernah dengar nama orientalis lagendaris satu ini: Karel Steenbrink.

Dia pakar perbandingan agama asal Belanda yang banyak meneliti pendidikan serta sejarah Islam dan Kristen di Indonesia sejak era 1970-an. Di kalangan penggiat dan pemerhati pesantren, professor emeritus perbandingan agama Universitas Utrecht itu juga dianggap pakar bangkotan pesantren di Indonesia.

Trimurti Pondok Modern Gontor

Trimurti Pondok Modern Gontor

Semua penyematan kepakaran itu dia mulai dengan menjadi santri tamu di PM Gontor dekade 1970-an. Melalui sponsornya di Belanda, Karel Steenbrink mengajukan permohonan kepada pimpinan Gontor untuk mempelajari secara mendalam sistem pesantren dan madrasah di Indonesia dengan melekat menjadi santri langsung sekalipun dirinya penganut Kristen.

Kelak, gaya Karel Steenbrink menjadi salah satu model riset eksperimental cabang keilmuan Skolastik dan Humaniora di tanah air; lazim di tempuh oleh para ilmuan dan filsuf Kristen Prancis dan Inggris kala nyantri di berbagai pusat pendidikan dan pengajaran Islam di Andalusia. Seperti Cordova, Toledo, Sevilla, Malaca, Granada dan Selamanca di abad sebelum peradaban Barat terbit.

Keberanian para Kyai Gontor dengan mengabulkan permohonan Karel Steenbrink nyantri di Gontor kurang lebih setengah tahun itu membuat para tokoh ormas Islam, khususnya ormas mainstream NU dan Muhammadiyah, geleng-geleng kepala.

KH. Imam Zarkasyi tak pernah takut Gontor ditanggalkan para santrinya selama belajar di pondok demi menegakan “sunnah” pondok melalui ijtihad pendidikan dan pembelajaran. Dalam sebuah peristiwa pengusiran besar era 1960-an, dikenal dengan Peristiwa Sembilan Belas Maret 1967 (Persemar), ada satu ungkapan yang sangat terkenal dari beliau, membuat bulu kuduk merinding.

Tragedi Persemar akibat kompleksitas indesipliner santri Gontor di tengah kekacauan republik pasca G30S/PKI dan pertarungan ideologi negara. Kabarnya turut disusupi di Gontor hingga melahirkan kekacauan dan tabiat indisipliner santri. Di mulai dari protes di dapur umum, meluas menjadi pembangkangan disiplin pondok.

Pasca tragedi Persemar itu, KH. Imam Zarkasyi berikrar: “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap ku ajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Kalaupun yang satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena”. []#Spinker620 [Edisi Kangen Gontor, 19/04/2018]

Catatan Digital: Alfi Rahmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *